Refleksi Pembelajaran Sekolah Tomoe (Totto-Chan, Karya Tetsuko Kuroyanagi) Pada Pembelajaran Sekolah Indonesia………..

Januari 22, 2016

Pendek kata, semua murid Tomoe melakukan apa yang mereka sukai dengan cara yang mereka sukai. (hal 194)

Sistem pembelajaran yang sangat tepat ! itulah pertama kali yang terlintas dalam benak saya ketika membaca buku Totto Chan. Memang, sudah saatnya pembelajaran di Indonesia diubah.

Selama ini, pembelajaran kita hanya mengedepankan nilai. Kalau boleh dikata, pembelajaran Indonesia lebih mengagung-agungkan nilai. Bagi seorang murid, nilai adalah sangat penting. Lebih parah, guru dan orang tua murid sendiri lah yang memandang keberhasilan seorang murid dengan melihat seberapa besar nilai yang diperoleh oleh seorang murid.

Metode menghafal sering kali menjadi pilihan utama untuk mendapat nilai bagus(tinggi). Metode itu hanya bertahan (maap) ketika siswa menghadapi ulangan umum atau ujian. Setelah selesai menempuh ulangan harian, siswa akan lupa apa yang sedang dipelajarinya. Siswa tidak mampu memetik setiap lesson learn setiap pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Tuntutan seorang orang tua yang akan membanggakan diri ketika anak mereka mendapat nilai tinggi atau seorang guru yang dapat membanggakan diri di Kepala Dinas atau sekolah lain ketika sekolah mereka meraih nilai tertinggi dalam ujian tidak mampu meningkatkan kepekaan emosi para siswa. Siswa hanya dituntut secara akademis harus mampu bersaing tanpa mematrikan sebuah konsep ilmu yang akan dia bawa hingga akhir hayat. Siswa tumbuh dan kembang bukan mewakili watak mereka masing-masing namun tumbuh dan kembang sesuai dengan keinginan orang tua atau guru.

Dia yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang denga mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa.

…………segala sesuatu yang alamiah dan ingin agar karakter anak-anak berkembang sealamiah mungkin. (hal 251)

Pembelajaran seharusnya mengedepankan pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan diri secara akademis dan emosional secara seimbang. Tak hanya kemampuan otak saja yang harus diutamakan namun kemampuan ketrampilan hidup yang akan menuntun anak dalam keberhasilan hidup.

Melalui life skill, anak mampu menumbuhkembangkan kepekaan mereka terhadap kondisi lingkungan sekitar mereka. Bukan saatnya, kita menciptakan manusia yang hanya mampu beradu argumentasi tanpa mampu menghadapi tantangan hidup dan mengambil segala resiko dan kesempatan dengan penuh tanggung jawab.

Entah bagaimana, kehidupan sehari-hari di Tomoe telah mengajarkan bahwa mereka tidak boleh mendorong orang yang lebih kecil atau lemah daripada mereka, bahwa bersikap tidak sopan berarti mempermalukan diri sendiri, bahwa setiap kali melewati sampah mereka harus mengambil dan membuangnya ke tempat sampah, dan bahwa mereka tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain kesal atau terganggu. (hal 95)

Selama ini, siswa kita tidak diberi kesempatan berbicara yang cukup. Alhasil, banyak siswa kita tidak berani mengungkapkan pendapat mereka hingga mereka dewasa. Kebebasan mereka seolah-olah direnggut oleh seorang guru yang menginginkan siswa mereka duduk, diam, mencatat, dan mendengarkan.

Bukankah yang terpenting dalam kehidupannya adalah life skill atau ketrampilan hidup seseorang? Tak sedikit yang berhasil dalam kehidupan ini adalah mereka yang mempunyai semangat, ketrampilan hidup dan life skill yang tinggi.

Anak mempunyai dunia sendiri yang kita (orang dewasa) tidak dapat mengintervensi sedikit pun kepentingan mereka. Biarkanlah mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan cara mereka. Cara itulah yang akan menuntun mereka untuk selalu bersikap ilmiah. Dengan sendirinya, anak akan menemukan konsep-konsep ilmu yang akan terpatri di benak mereka selamanya hingga mereka tumbuh dewasa.

Motivasi sangat perlu untuk menumbuhkan rasa konfiden dalam diri anak. Tak jarang kita dapat menemukan sikap rendah diri anak. Anak merasa apa yang telah dilakukannya salah. Guru dan orang tua lah yang benar. Sikap semacam itu membuat anak tidak dapat mengembangkan ide dan kreatifitas diri yang pada akhirnya mengurung pola pikir anak.

Sekarang, bagaimana kita menyikapi hal itu? Semuanya terserah pada kita calon orang tua yang kelak memiliki buah hati yang juga mempunyai kehidupan sendiri.

Iklan

Konservasi Sejak Dini

Januari 22, 2016

Alam raya yang dihuni jutaan manusia adalah anugrah yang patut dihargai dan dinikmati keberadaannya. Namun, tak sepenuhnya manusia semena-mena terhadap apa yang ada di alam ini. Konsekwensi yang diambil manusia adalah mereka wajib hukumnya untuk menjaganya. Seperti diketahui, alam ini adalah jaring kehidupan yang semua komponen penyusunnya saling terkait. Tak ada satu pun komponen di alam ini yang dapat berdiri sendiri.

Keterkaitan itu menjaga keseimbangan alam dan juga memastikan kualitas hidup. Jadi jika salah satu komponen mengalami gangguan, dapat dipastikan akan terjadi ketidakseimbangan alam, semisal air sebagai sumber kehidupan mengalami penipisan persediaan di dalam perut bumi maka komponen lain yang ada di alam ini tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Apa yang terjadi di beberapa wilayah hutan Indonesia merupakan apa yang disebut dengan penurunan fungsi ekologis. Hutan yang seharunya dilindungi dan dijaga kelestariannya, kini hanyalah tempat pemukiman dan ladang terbuka. Dengan mudah, manusia mengubahnya tanpa mengembalikan sesuai dengan fungsinya.

Secara global, hutan menjadi rusak. Tak disadari, tanah sebagai media tanam dan juga sumber nutrisi bagi tanaman juga mengalami penurunan kualitas ketika terjadi perambahan hutan dan penebangan hutan. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya usaha mengembalikan ke semula. Dengan lolosnya nutrisi dalam tanah dan berubahnya struktur tanah, membawa tanah ke dalam sebuah kondisi yang disebut dengan penggurunan. Tak akan ada tanaman yang mampu bertahan hidup di tanah ini. Sesuai dengan namanya, kondisi tanah mengalami perubahan dan fungsi utama tanah pun hilang.

Upaya konservasi perlu ditawarkan ke segala pihak mengingat tanggung jawab menjaga kelestarian alam adalah milik semua penghuni planet ini. Konservasi, yang berarti menjaga, perlu ditanamkan di setiap pikiran manusia. Penanaman konsep yang kuat mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui konservasi alam perlu dilakukan sejak dini. Artinya, seorang anak diberikan modal yang kuat mengenai menjaga lingkungan sekitar.

Konservasi sejak usia dini memberikan masukan yang sangat berarti bagi keberlanjutan kehidupan di masa yang akan datang. Anak, bukan saja mengetahui mana yang harus dan tidak dilakukan terhadap lingkungan mereka tetapi juga diajak untuk melakukan tindakan nyata terhadap proses perbaikan lingkungan.
Sebagai upaya menangani penurunan fungsi tanah, anak diajak menanam apa saja yang mereka suka. Dengan demikian, struktur dan nutrisi dalam tanah akan dalam kondisi semestinya.
Pendekatan secara formal maupun informal merupakan hal mutlak dalam kegiatan ini. Di sekolah, seorang guru seharusnya membebankan satu tanaman untuk ditanam, dirawat, dan dikontrol. Di keluarga, penanaman dapat dilakukan secara bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain.

Hello world!

Desember 8, 2006

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!